Fashion Thrifting: Gaya Hemat yang Jadi Tren Besar

Pagi Sabtu yang cerah, saya menyusuri Pasar Senen Talangubi. Antrean mengular di depan lapak baju bekas. Bukan baju biasa, tapi jaket denim era 90-an dan kemeja flanel. Dulu tempat ini sepi, sekarang penuh anak muda yang rela rebutan pakai sikut. Ini bukan sekadar mode hemat, tapi udah jadi gerakan fashion yang seruu.
Kenapa Thrifting Kembali Populer?
Dua tahun terakhir, thrifting menjelma jadi identitas. Dulu stigma barang loak masih melekat, sekarang justru jadi simbol selera tinggi. Saya lihat teman-teman di Talangubi lebih bangga pakai jaket vintage hasil buruan Rp50 ribu daripada kaos baru mall. Soal harga jelas murah, tapi bukan itu intinya.
Setiap potong secondhand punya cerita. Sobekan di kerah, kancing yang beda, itu yang bikin uniik. Di TikTok, konten haul thrifting bisa tembus jutaan views. Anak muda dari Jakarta sampai pelosok berlomba cari barang ikonik. Tren ini juga didorong kesadaran lingkungan. Fast fashion mulai ditinggalkan karna limbahnya mengkhawatirkan. Thrifting jadi alternatif yang stylish sekaligus ramah bumi.
Data dari Kompas mencatat pasar fashion secondhand di Indonesia tumbuh signifikan sejak pandemi. Bukan cuma di kota besar. Di Talangubi pun sekarang ada tiga toko thrift resmi. Yang dulu dianggap kumuh sekarang jadi keren.
Tips Berburu Thrifting ala Anak Talangubi
Saya udah lima tahun ngulik thrifting. Ada beberapa trik. Pertama, jangan datang pas akhir pekan. Sabtu pagi adalah waktu emas. Lapak baru buka, barang masih rapi, dan belum banyak yang ngacak. Kedua, cek detail. Lubang, noda, atau bau apek bisa diatasi asal tahu cara merawat. Saya punya kenalan penjahit di pasar yang bisa nge-patch sobekan jadi tambahan aksen.
Ketiga, bawa uang pas. Penjual sering kasih diskon kalau kita bayar kontan. Terakhir, jangan fokus sama label. Banyak barang thrift yang gak bermerek tapi kualitas kainnya jauh di atas produk baru. Saya pernah dapat kemeja katun Jepang puluhan tahun lalu, masih adem dipakai sampai sekarang.

Tren ini juga merambah komunitas. Di Talangubi ada grup WhatsApp khusus thrift hunter. Mereka saling info kalau ada kiriman baru dari Surabaya. Kadang saya ikut patroli subuh ke beberapa toko. Rasanya kayak berburu harta karun, seru bangeet.

Thrifting mengubah cara pandang saya tentang fashion. Gak perlu mahal untuk tampil beda. Yang penting teliti dan sabar. Setiap barang punya jiwa, dan kita yang memilih untuk melanjutkan ceritanya.
Gaya hidup ini juga bikin saya lebih kreatif. Padu padan baju jadi tantangan tersendiri. Saya sering mix vintage dengan streetwear lokal, hasilnya fresh. Teman-teman bilang gaya saya unik, padahal semua dari pasar loak.
Thrifting bukan cuma tren, tapi bentuk ekspresi. Anak muda Talangubi sadar bahwa fashion bisa ramah lingkungan, murah, dan tetap keren. Selama masih ada pasar loak dan tangan-tangan jeli yang merawat, tren ini bakal terus hidup. Gak usah ragu, coba aja sendiri. Siapa tahu kamu nemu jaket vintage yang jadi incaran tetangga.
Catatan: sumber resmi